Jumat, 21 Maret 2008

DEPKES : Klarifikasi Keamanan Susu Formula Bayi


Susu bayi (formula) dan makanan bayi yang beredar saat ini aman dikonsumsi. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tidak pernah mengeluarkan daftar susu yang aman dan berbahaya sebagaimana isu yang beredar di dalam mailing list. Kepala BPOM dr. Husniah Thamrin Akib mengatakan hal ini dalam acara jumpa pers di kantor Departemen Komunikasi dan Informatika, Jakarta, Jum'at 29 Februari 2008. Acara ini juga dihadiri Kepala Pusat Komunikasi Publik Depkes dr. Lily S. Sulistyowati, MM, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dr. Sukman Tulus Putra, Bagian Mikro Biologi FMIPA IPB dr. Sri Budiarti.

Menurut Kepala BPOM, semua produk pangan yang beredar di masyarakat telah menjalani pemeriksaan BPOM. Dengan demikian bila ada produk yang tidak memenuhi syarat uji mutu pangan dan gizi, maka otomatis tidak akan mendapat ijin edar. Selain itu, pengawasan produk pangan terhadap berbagai macam cemaran dilaksanakan secara rutin. "Susu formula dan makanan bayi termasuk prioritas untuk dilakukan pengujian," tegas dr. Husniah.

Lebih lanjut ditegaskan, selama ini hasil pengujian BPOM terhadap susu formula menunjukkan produk susu formula di Indonesia memenuhi syarat untuk diedarkan. "Dalam 42 tahun sejak 1961 – 2003 penelitian di luar negeri, ditemukan 48 bayi yang terinfeksi Enterobacter Sakazaki (ES). Kasus ini terjadi khususnya pada bayi umur di bawah 1 bulan dengan sistem kekebalan tubuh rendah, berat lahir rendah (BBLR), bayi prematur, dan bayi pengidap AIDS," jelas Husniah.

Husniah menyatakan, minimal ada tiga kemungkinan seorang bayi tercemar susu formula yakni karena bahan baku yang tercemar, kontaminasi saat pasteurisasi dan kontaminasi saat penyiapan susu formula bagi bayi. Oleh karena itu ia menganjurkan pentingnya memberikan ASI Eksklusif (hanya air susu ibu saja) pada bayi umur 0 – 6 bulan sebagai pemberi kekebalan tubuh terbaik bagi bayi. Dengan demikian dapat mencegah cemaran mikroba ES. Namun bila ASI tidak dapat diberikan secara maksimal, penyiapan susu formula harus dilakukan secara higienis, mulai penyiapan dot, menyeduhnya, hingga menyajikannya.

Ketua Umum IDAI dr. Sukman T. Putra, Sp.A mencontohkan cara mengurangi risiko terinfeksi bakteri ES yaitu dengan membuat susu sekali diminum habis untuk menghindari susu berada di suhu ruang terlalu lama. Rebus air minum pembuat susu sampai mendidih dalam ketel/panci tertutup. Setelah mendidih, biarkan air tersebut dalam panci tertutup agar suhunya turun menjadi 700C. Tuangkan air sesuai dengan ukuran ke dalam botol susu yang telah disterilkan. Tambahkan susu bubuk sesuai takaran dan kebutuhan. Tutup kembali botol susu dan kocok sampai susu larut dengan baik. Dinginkan dengan merendam bagian bawah botol susu dengan air bersih dingin. Sisa susu yang telah dilarutkan dibuang setelah 2 jam.

Dr. Sukman T. Putra menyatakan bahwa sampai saat ini di Indonesia tidak didapatkan laporan pada kasus bayi dan anak yang diduga disebabkan oleh kuman yang berasal dari kontaminasi susu formula.

Mengenai penelitian tentang keberadaan bakteri ES dr. Sri Budiasih dari IPB menyatakan bahwa penelitian tersebut dilakukan tahun 2003 dengan sampling susu yang beredar pada masa itu. Penelitian ini dimaksudkan untuk mencari metoda yang lebih murah dalam menemukan bakteri ES dalam susu formula. Penelitian ini baru dipublikasikan tahun 2006. "Jadi saat ini produk yang digunakan saat pengujian itu tidak beredar lagi di masyarakat. Teruskan saja minum susu formula, sejauh tidak ada keluhan khusus pada bayi," tegasnya.

Penelitian yang sempat meresahkan masyarakat khususnya para ibu yang memberikan susu formula pada bayinya, dilakukan peneliti dari IPB Dr. Sri Estuningsih dkk pada bayi tikus (mencit) sebagai binatang coba karena tidak mungkin dicobakan pada manusia. Sampel yang ditelitipun hanya sedikit yakni 5 sampel susu formula dan 6 sampel makanan bayi atau 22.73% dari 22 sample susu bayi dan 40% dari 15 sampel makanan bayi. Penelitiannya pun dilakukan pada tahun 2003 dan baru dipublikasikan tahun 2006 dalam situs IPB.

ASI Ekslusif merupakan makanan terbaik bagi bayi karena mengandung zat gizi paling sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Hal ini tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 450/MENKES/SK/IV/2004 yang ditetapkan tanggal 7 April 2004. Menkes menetapkan, pemberian ASI sejak umur 0 – 6 bulan dan dianjurkan dilanjutkan sampai anak berusia 2 tahun dengan pemberian makanan tambahan yang sesuai.

Sumber : Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan

Rabu, 19 Maret 2008

Wisuda STIKES Kendal Angkatan II


Pengabdian terhadap masyarakat, adalah tugas mulia semua insan. Kadang tugas itu berat untuk dilaksanakan di tengah-tengah masyarakat. Tekad tidak selamanya didampingi oleh kesempatan. Namun kesempatan itu kini sudah terwujud, dengan diwisudanya suster cantik dalam Wisuda Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Kendal Angkatan II Program Reguler dan Angkatan B Program Ekstensi.
Dalam kehelatan akbar Rabu, 19 Maret 2008 ini, STIKES Kendal meluluskan 102 sarjana keperawatan. Dalam kegembiraannya para wisudawan wisudawati dihadapkan pada satu tantangan untuk menjadi seorang pengabdi masyarakat yang profesional.
Berita gembira juga datang kepada para wisudawan wisudawati, bahwa Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan memfasilitasi lulusannya untuk bisa bekerja sebagai tenaga medis yang profesional di luar negeri, yaitu di Australia. Bila pada wisuda I STIKES belum siap untuk hal ini, namun pada tahun ini di Wisuda II, hal itu sesuatu yang mungkin untuk dilaksanakan.
Selamat berjuang rekan-rekan Perawat, Tenaga Medis yang Profesional. Mari kita abdikan diri kita untuk bangsa dan negara ini. Mari kita abdikan bagi masyarakat. Berjuang.....!

Senin, 03 Maret 2008

MENTERI KESEHATAN : Petikan Presentasi


Setelah kita mendengarkan laporan dari Menteri Kesehatan dan kita bahas secara mendalam untuk sebuah sinkronisasi dan sinergi dengan apa yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan dengan Kementerian, lembaga-lembaga pemerintah yang lain, maka saya ingin menyampaikan hal-hal penting yang perlu diketahui oleh seluruh rakyat Indonesia, kebijakan, program, dan langkah nyata pemerintah, khususnya tahun ini dan tahun-tahun mendatang.
Pertama, program dan prioritas kegiatan di sektor kesehatan untuk tahun 2008 yang kita harus sukseskan adalah upaya untuk menurunkan, secara terus menerus, angka kematian ibu dan angka kematian bayi pada saat ibu melahirkan atau pada saat bayi itu dilahirkan. Ini juga menjadi ukuran dari millenium development goals dan ukuran dari pembangunan sektor kesehatan di negeri kita. Perlu saya sampaikan kepada Saudara-saudara bahwa tren atau kecenderungan penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi ini berlangsung dengan baik, secara kuantitatif bisa dijelaskan pada saatnya nanti oleh Menteri Kesehatan. Kita ingin melanjutkan upaya ini agar lebih cepat lagi penurunan yang bisa kita bisa lakukan, tentu sesuai dengan sasaran yang telah kita tetapkan, baik di dalam RPDMN maupun rencanarencana
strategis yang lain.
Kita juga menggarisbawahi perlunya sistem transfusi darah yang baik, darah itu tersedia, dan apabila diperlukan untuk penyelamatan ibu dan anak, apabila ada permasalahan dalam proses kelahiran itu bisa segera kita berikan. Kita juga berharap ada satu payung hukum yang kita kemasakinikan yang kita update sehingga terjadi sinkronisasi yang baik antara Departemen Kesehatan, sebagai bagian dari pemerintah, dengan Palang Merah Indonesia ataupun pihak-pihak lain yang ikut mengelola transfusi darah di negeri kita. Dalam kaitan ini kita juga menggarisbawahi perlunya kembali kita revitalisasikan program Keluarga Berencana. Ini sangat penting untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat kita dan untuk kepentingan peningkatan kesejahteraan rakyat dikaitkan dengan daya dukung ekonomi di negeri ini.
Kita juga menggarisbawahi dan kita bahas secara mendalam perlunya terus meningkatkan jumlah dan mutu dari sumber daya manusia kesehatan, para dokter umum, dokter spesialis, tenaga medis, bidan, dan lain-lain, yang juga sangat penting untuk bisa menurunkan AKI dan AKB ini. Kita sependapat untuk terus melanjutkan yang disebut dengan program P3K atau P4K, Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi yang ternyata cukup efektif untuk mengelola secara teknis agar lebih banyak lagi kita selamatkan ibu dan anak pada saat proses kelahiran atau persalinan. Di daerah-daerah terpencil, daerah tertinggal, ini menjadi bagian dari posyandu kita, dari puskesmas kita yang harus terus menerus kita galakkan. Di samping itu, kita juga, disamping AKI dan AKB, sumber daya manusia kesehatan kita harapkan terus dapat ditingkatkan. Ini memerlukan sinergi antara Departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan Nasional, rumah-sakit-rumah sakit, pemerintah daerah, Departemen Keuangan, agar sasaran yang telah ditetapkan bisa kita capai. 2008 ada sasaran kuantitatif untuk penambahan sumber daya manusia kesehatan, dan menurut perhitungan kita, mengambil pengalaman tahun 2007, itupun dapat kita capai.
Kita menggarisbawahi salah satu prioritas pada tahun 2008 ini adalah penyediaan obat dan perbekalan kesehatan.
Tentu ada dulu obat dan perbekalan kesehatan itu, harganya terjangkau, ingat bagi yang miskin tentu harus kita berikan bantuan dengan program Askeskin. Kemudian yang memiliki kemampuan untuk membeli obat-obatan dan perbekalan itu mesti membeli, menjadi adil namanya. Dan kemudian kita harapkan mutunya juga dapat terus kita tingkatkan. Kita akan melanjutkan terus pemberantasan penyakit menular di seluruh tanah air, apakah malaria, demam berdarah, DB, flu burung, baik itu preventif maupun kuratif, yang dapat kita padukan secara nasional, Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan lembaga-lembaga yang lainnya.
Yang keenam kita menetapkan untuk mengaktifkan, mengintensifkan program perbaikan gizi masyarakat. Apa yang terjadi dua tahun yang lalu, tahun 2006, ada kasus-kasus gizi buruk di beberapa daerah, masih ingat saya di NTB, NTT, dan Papua. Evaluasi yang kita lakukan telah terjadi perbaikan yang signifikan dan kita akan terus lakukan perbaikan gizi ini untuk seluruh rakyat kita dengan langkah-langkah yang intensif.
Menyangkut anggaran, sebagaimana saya katakan tadi, tentu, karena ini prioritas, anggaran juga mendapatkan porsi yang secukupnya, sesuai dengan batas kemampuan dari APBN kita. Untuk anggaran kesehatan, ada kenaikan yang menurut saya cukup signifikan. Apabila tahun 2005 jumlahnya 11,7 trilliun, tahun 2006 menjadi 16,3 trilliun, dan tahun 2007 yang lalu menjadi 22,1 trilliun, atau naik 100% dibandingkan anggaran tahun 2005. Harapan kita, anggaran ini betul-betul digunakan dengan tepat. Perlu kepedulian, perlu sinergi dan perlu tanggung jawab bersama di antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Karena dari anggaran kesehatan sebesar itu, kalau lihat porsinya, Pemerintah Pusat itu hanya 13%, itupun termasuk program Askeskin, sedangkan 87% berada pada Pemerintah Daerah.
Melalui forum ini, saya menginstruksikan kepada pada gubernur, bupati dan walikota di seluruh tanah air agar sungguh memberikan atensi dan memberikan anggaran yang cukup di bidang kesehatan ini, untuk rakyat kita, untuk ibu-ibu kita,anak-anak, terutama mereka yang termasuk golongan miskin ataupun setengah miskin.
Program khusus yang telah ditetapkan oleh Pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan tentu harus kita
sukseskan. Saya dukung penuh kegiatan pembangunan desa siaga yang jumlahnya cukup banyak. Perlu sinkronisasidengan Departemen Dalam Negeri dan pihak-pihak yang lain, yang ini juga menjadi program utama atau program
khusus pada tahun 2008 ini. The next..... www.setneg.go.id/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=1486

Minggu, 02 Maret 2008

ALERGI : Tanggapan Sahabat

ALERGI
Alergi atau hipersensitivitas tipe I adalah kegagalan kekebalan tubuh di mana tubuh seseorang menjadi hipersensitif dalam bereaksi secara imunologi terhadap bahan-bahan yang umumnya nonimunogenik. Dengan kata lain, tubuh manusia berkasi berlebihan terhadap lingkungan atau bahan-bahan yang oleh tubuh dianggap asing dan berbahaya, padahal sebenarnya tidak. Bahan-bahan yang menyebabkan hipersensitivitas tersebut disebut alergen.
Angka kejadian alergi di berbagai dunia dilaporkan meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir. World Health Organization (WHO) memperkirakan di dunia diperkirakan terdapat 50 juta manusia menderita asma. Tragisnya lebih dari 180.000 orang meninggal setiap tahunnya karena astma. BBC tahun 1999 melaporkan penderita alergi di Eropa ada kecenderungan meningkat pesat. Angka kejadian alergi meningkat tajam dalam 20 tahun terakhir. Setiap saat 30% orang berkembang menjadi alergi. Anak usia sekolah lebih 40% mempunyai 1 gejala alergi, 20% mempunyai astma, 6 juta orang mempunyai dermatitis (alergi kulit). Penderita Hay Fever lebih dari 9 juta orang.
Beberapa ahli alergi berpendapat bahwa 30%-50% secara genetik manusia mempunyai predisposisi untuk berkembang menjadi alergi.
PENCEGAHAN
Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya alergi:
1. belilah alat penghilang kelembaban karena debu dan jamur sangat menyukai rumah yang lembab. Jaga kelembaban rumah di bawah 50 persen.
2. cuci kain. Mencuci sprei seminggu sekali dengan air hangat akan lebih efektif dan lebih murah daripada membeli alat penyaring udara.
3. bersihkan pekarangan. Daun dan bekas potongan rumput adalah tempat timbulnya jamur dan akan berlipat ganda bila basah terkena hujan.
4. temui ahli. Konsultasikan dengan spesialis. Alergi yang muncul secara musiman membutuhkan perawatan yang berbeda-beda.
Lebih jauh kunjungi :
www.wido25.blogster.com/alergi_pada_dewasa
....semoga sembuh.